Senin, 06 Februari 2012

hiv/aids


A.   Definisi

secara terminologi AIDS merupakan kumpulan gejala penyakit yang menyerang dan atau merusak  system kekebalan tubuh manusia melalui HIV (Human Immune Virus).
AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome yang merupakan dampak atau efek dari perkembang biakan virus hiv dalam tubuh makhluk hidup. Virus HIV membutuhkan waktu untuk menyebabkan sindrom AIDS yang mematikan dan sangat berbahaya. Penyakit AIDS disebabkan oleh melemah atau menghilangnya sistem kekebalan tubuh yang tadinya dimiliki karena sel CD4 pada sel darah putih yang banyak dirusak oleh Virus HIV.
Ketika kita terkena Virus HIV kita tidak langsung terkena AIDS. Untuk menjadi AIDS dibutuhkan waktu yang lama, yaitu beberapa tahun untuk dapat menjadi AIDS yang mematikan. Seseorang dapat menjadi HIV positif. Saat ini tidak ada obat, serum maupun vaksin yang dapat menyembuhkan manusia dari Virus HIV penyebab penyakit AIDS.
Gejala AIDS ini sulit diamati karena mirip dengan gejala penyakit lain. Untuk memastikan seseorang benar terkena AIDS atau terinfeksi virus HIV diperlukan tes khusus. Seorang Odha kelihatan biasa, seperti halnya orang lain karena tidak menunjukkan gejala klinis. Kondisi ini disebut "asimptomatik" yaitu tanpa gejala. Pada orang dewasa sesudah 5-10 tahun mulai tampak gejala-gejala AIDS.

B.   Penyebab AIDS

Penyebab penyakit AIDS ini adalah Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Akibatnya, penderita AIDS menjadi rentan terhadap berbagai penyakit dan infeksi. Penyakit flu biasa bisa mematikan bagi penderita AIDS.


C.   Cara penularan

·         Lewat cairan darah
Melalui transfusi darah / produk darah yg sudah tercemar HIV
Lewat pemakaian jarum suntik yang sudah tercemar HIV, yang dipakai bergantian tanpa disterilkan, misalnya pemakaian jarum suntik dikalangan pengguna narkotika suntikan.
Melalui pemakaian jarum suntik yang berulangkali dalam kegiatan lain, misalnya : peyuntikan obat, imunisasi, pemakaian alat tusuk yang menembus kulit, misalnya alat tindik, tato, dan alat facial wajah

·         Lewat cairan sperma dan cairan vagina
Melalui hubungan seks penetratif (penis masuk kedalam Vagina/Anus), tanpa menggunakan kondom, sehingga memungkinkan tercampurnya cairan sperma dengan cairan vagina (untuk hubungan seks lewat vagina) ; atau tercampurnya cairan sperma dengan darah, yang mungkin terjadi dalam hubungan seks lewat anus.





·         Lewat air susu ibu
Penularan ini dimungkinkan dari seorang ibu hamil yang HIV positif, dan melahirkan lewat vagina; kemudian menyusui bayinya dengan ASI.
Kemungkinan penularan dari ibu ke bayi (Mother-to-Child Transmission) ini berkisar hingga 30%, artinya dari setiap 10 kehamilan dari ibu HIV positif kemungkinan ada 3 bayi yang lahir dengan HIV positif.
Hubungan seksual secara anal (lewat dubur) paling berisiko menularkan HIV, karena epitel mukosa anus relatif tipis dan lebih mudah terluka dibandingkan epitel dinding vagina, sehingga HIV lebih mudah masuk ke aliran darah. Dalam berhubungan seks vaginal, perempuan lebih besar risikonya daripada pria karena selaput lendir vagina cukup rapuh. Disamping itu karena cairan sperma akan menetap cukup lama di dalam vagina, kesempatan HIV masuk ke aliran darah menjadi lebih tinggi. HIV di cairan vagina atau darah tersebut, juga dapat masuk ke aliran darah melalui saluran kencing pasangannya.



AIDS tidak ditularkan melalui :
·         Makan dan minum bersama, atau pemakaian alat makan minum bersama.
·         Pemakaian fasilitas umum bersama, seperti telepon umum, WC umum, dan kolam renang.
·         Ciuman, senggolan, pelukan dan kegiatan sehari-hari lainnya.
·         Lewat keringat, atau gigitan nyamuk


D.  Cara pencegahan
Ø  Pendidikan pada kelompok yang beresiko terkena AIDS
Ø  Anjuran bagi yang telah terinfeksi virus ini untuk tidak menyumbangkan darah, organ atau cairan semen, dan mengubah kebiasaan seksualnya guna mencegah terjadinya penularan
Ø  Screening darah donor terhadap adanya antibodi HIV
Ø  Gunakan selalu jarum suntik yang steril dan baru setiap kali akan melakukan penyuntikan atau proses lain yang mengakibatkan terjadinya luka
Ø  Selalu menerapkan kewaspadaan mengenai seks aman (artinya : hubungan seks yang tidak memungkinkan tercampurnya cairan kelamin, karena hal ini memungkinkan penularan HIV)
Ø  Bila ibu hamil dalam keadaan HIV positif sebaiknya diberitahu tentang semua resiko dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada dirinya sendiri dan bayinya, sehingga keputusan untuk menyusui bayi dengan ASI sendiri bisa dipertimbangkan.
Ø  Abstinensi (atau puasa, tidak melakukan hubungan seks) 
Ø  Melakukan prinsip monogami yaitu tidak berganti-ganti pasangan dan saling setia kepada pasangannya 
Ø  Untuk yang melakukan hubungan seksual yang mengandung risiko, dianjurkan melakukan seks aman termasuk menggunakan kondom
Ada dua hal yang perlu diperhatikan: 
·         Semua alat yang menembus kulit dan darah (jarum suntik, jarum tato, atau pisau cukur) harus disterilisasi dengan benar
·         Jangan memakai jarum suntik atau alat yang menembus kulit bergantian dengan orang lain

E.   Tanda-tanda seseorang tertular HIV/AIDS
Sebenarnya tidak ada tanda-tanda khusus yang bisa menandai apakah seseorang telah tertular HIV, karena keberadaan virus HIV sendiri membutuhkan waktu yang cukup panjang (5 sampai 10 tahun hingga mencapai masa yang disebut fullblown AIDS). Adanya HIV di dalam darah bisa terjadi tanpa seseorang menunjukan gejala penyakit tertentu dan ini disebut masa HIV positif. Bila seseorang terinfeksi HIV untuk pertama kali dan kemudian memeriksakan diri dengan menjalani tes darah, maka dalam tes pertama tersebut belum tentu dapat dideteksi adanya virus HIV di dalam darah. Hal ini disebabkan kaena tubuh kita membutuhkan waktu sekitar 3 - 6 bulan untuk membentuk antibodi yang nantinya akan dideteksi oleh tes darah tersebut. Masa ini disebut window period (periode jendela) . Dalam masa ini , bila orang tersebut ternyata sudah mempunyai virus HIV di dalam tubuhnya (walau pun belum bisa di deteksi melalui tes darah), ia sudah bisa menularkan HIV.


Secara umum, tanda-tanda utama yang terlihat pada seseorang yang sudah sampai pada tahapan AIDS adalah:
·         Berat badan menurun lebih dari 10% dalam waktu singkat
·         Demam tinggi berkepanjangan (lebih dari satu bulan)
·         Diare berkepanjangan (lebih dri satu bulan)
Sedangkan gejala-gejala tambahan berupa :
·         Batuk berkepanjagan (lebih dari satu bulan)
·         Kelainan kulit dan iritasi (gatal)
·         Infeksi jamur pada mulut dan kerongkongan
·         Pembengkakan kelenjar getah bening di seluruh tubuh, seperti di bawah telinga, leher, ketiak dan lipatan paha.
 

F.   Pandangan agama mengenai penyakit AIDS

Kita perlu menyadari bahwa tidak ada agama yang selalu bersuara tunggal. Tidak ada satu pun agama di dunia ini secara total bisa dimonopoli oleh kelompok tertentu baik yang berkontribusi positif maupun negatif terhadap penanggulangan HIV dan AIDS. Selalu ada suara di seberang yang mempermasalahkan klaim totalitas kelompok tertentu atas ajaran agama. Sebagaimana halnya tidak semua ulama Islam membicarkan hubungan seksual semata-mata dari sudut pandang halal-haram.
Masdar F. Mas’udi, seorang tokoh Nahdlatul Ulama, misalnya, pada satu kesempatan menyatakan bahwa fiqih Islam semestinya tidak hanya bertanya apakah sebuah hubungan seksual halal atau haram, tapi juga perlu dilanjutkan dengan pertanyaan apakah hubungan seksual suami istri itu aman ataukah tidak. HIV dan AIDS tidak lagi semata-mata masalah medis, tapi sudah menjadi situs yang diperebutkan oleh berbagai kelompok mulai dari agamawan-moralis sampai human rights defenders, serta kenyataan bahwa agama masih menjadi acuan hidup utama bagi kebanyakan orang, maka melibatkan agama dalam skema besar penanggulangan HIV dan AIDS menjadi sesuatu yang niscaya. Keyakinan, ajaran, sikap, dan praktek-praktek keagamaan dapat memberi kontribusi, baik positif maupun negatif, terhadap upaya penanggulangan HIV dan AIDS.
Penyakit HIV-AIDS yang sangat ditakuti oleh masyarakat, bukanlah merupakan penyakit “Kutukan Tuhan” sebagaimana pandangan sebagaian masyarakat. Melainkan penyakit biasa sebagaimana penyakit-penyakit lainnya.
Penyakit HIV-AIDS diatas lebih banyak di takuti oleh masyarakat karena penyakit tersebut belum ada obatnya. Penyakit tersebut muncul dikarenakan perbuatan manusia yang melanggar terhadap syari’ah yang telah di tetapkan
Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an :
” Sesungguhnya Allah tidak berbuat dzalim kepada manusia sedikit pun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat dzalim kepada diri mereka sendiri. (QS. Yunus: 44).
Negara kita yang mayoritas penduduknya muslim ini, merupakan salah satu negara yang memiliki tempat pelacuran terbesar jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia lainnya. Ini adalah merupakan prestasi yang memalukan bagi umat Islam.
Islam telah melarang mendekati perbuatan di atas, sebagaimana firmannya:
ولا تقـربوا الزنا إنه كان فاحشة وساء سبيـلا
” Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”. ( QS. Al-Isra’: 32).
” Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barang siapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa (itu)”. ( QS. An-Nur: 33).
Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (terj. Qs: An-Nuur; 30).


Islam melarang berdua-duaan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan dalam satu tempat tanpa kehadiran seorang mahram. Nabi SAW bersabda : “Ketika seorang laki-laki (pergi) berduaan dengan seorang wanita, maka setan menjadi orang ketiganya di sana.” Dalam Islam, campur baur bebas antara laki-laki dan wanita tanpa adanya keperluan dan kepentingan syar’i adalah terlarang. Islam memandang seks bebas sebagai sebuah malapetaka besar.
“…dan janganlah kamu datangi perbuatan keji, baik yang nampak diantaranya maupun yang tersembunyi….” (terj. QS :Al-An’am; 151).
Dari ayat di atas, Allah swt menjelaskan kepada hambanya, bahwa segala bentuk perbuatan mendekati kepada zina (main perempuan) pelacuran dan seterusnya itu dilarang. Sebagai akibat dari perbuatan di atas adalah munculnya penyakit HIV-AIDS yang hingga sekarang belum ditemukan obatnya.












BAB III
PENUTUP
1.   Kasimpulan

AIDS merupakan kumpulan gejala penyakit sebagai akibat atas menurunnya sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh infeksi HIV melalui hubungan seksual, kontak langsung dengan darah, dan transmisi dari ibu ke anak, dimana penyakit ini dicirikan dengan timbulnya berbagai penyakit yang bersifat aportunistik seperti kandidosis pada esophagus dan dilihat dari keganasannya seperti limfoma primer pada otak.
Mengingat  hingga saat ini belum ada vaksin yang dapat mencegah serta obat yang dapat mengatasi masalah AIDS, maka upaya pencegahan merupakan cara yang paling tepat untuk menurunkan insiden penyakit ini, adapun langkah-langkah yang perlu dilakukan seperti pendidikan pada kelompok yang beresiko terkena AIDS, dan anjuran bagi yang telah terinfeksi untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat menyebabkan penularan.
Adapun menurut pandangan agama HIV / AIDS itu buruk, karena penularan pun terjadi melalui cara yang dilarang oleh agama. Salah satunya HIV / AIDS ditularkan melalui hubungan seks bebas.

2.   Saran

Agar kita semua terhindar dari AIDS, maka kita harus berhati-hati memilih pasangan hidup, jangan sampai kita menikah dengan pasangan yang mengicap HIV / AIDS, karena selain dapat menular kepada diri kita sendirim juga dapat menular kepada janin dalam kandungan kita. Kita juga harus berhati-hati dalam pemakaian jarum suntik secara bergantian dan tranfusi darah dengan darah yang sudah terpapar HIV/AIDS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar